Inspiration

Perjalanan Karir Mitha Menjadi Komisioner Komisi Nasional Disabilitas

Rachmita Maun Harahap (52 tahun), biasa disapa Mitha dan berasal dari Tapanuli Selatan,  Sumatera Utara, Medan. Mitha tuli sejak lahir dengan kondisi  telinga kanan 103 desibel dan telinga kiri 105 desibel termasuk kategori tuli berat. Ia bersekolah Sekolah Dasar (SD) umum dari kelas 1 sampai dengan kelas 4, di bangku kelas 4 Mitha tidak naik kelas. Oleh karena itu, ia dipindahkan di Sekolah Luar Biasa bagian B (SLB-B) Karya Murni Medan selama 1 tahun. Karena orang tua dimutasi atau dipindahkan ke Surabaya, Mitha bersekolah di SLB-B Karya Mulia hanya 3 bulan. Mitha minta dipindahkan ke sekolah umum, karena di SLB-B tidak ada tantangan dan mata pelajaran sedikit. Ia memilih ke sekolah umum dekat rumahnya, kepala sekolah SD umum menanyakan orangtua Mitha apakah anak ibu bisa mengeluarkan suara? Jika anaknya bisa, langsung diterima di SDN X Kertajaya di Surabaya  sampai lulus. Mitha melanjutkan SMPN dan SMAN di Serang hingga lulus. Mitha melanjutkan kuliah desain arsitektur di Universitas Mercu Buana, Jakarta pada tahun 1990. Saat kuliah, Mitha berjuang sendiri tanpa bantuan siapapun karena belum ada fasilitas khusus, misal akses JBI (Juru Bahasa Isyarat) dan aplikasi  penerjemahan. Akhirnya, ia berhasil menyelesaikan pendidikan S1 tepat waktu selama 4 tahun dengan predikat terbaik ”Cumlaude”.

Mitha melanjutkan pendidikan jenjang S2 dengan mendapatkan beasiswa dari Universitas Mercu Buana, ia memilih jurusan Desain Interior di Institut Teknologi Bandung (ITB). Mitha mampu menyelesaikan kuliahnya dengan baik dan lulus lebih dulu dibanding rekan non Tuli.  Sudah 10 tahun Mitha mengajar sebagai dosen di Universitas Mercu Buana. Karena ingin menambah ilmu yang lebih tinggi, ia melanjutkan pendidikan S3 Doktor Ilmu Seni Rupa dan Desain di ITB. Selama kuliah S3 mulai semester awal hingga semester 8 Mitha selalu didampingi JBI dengan biaya pribadi. Ketika akan menjalani sidang promotor, ia meminta akses penerjemah JBI dengan dibiayai ITB, tetapi tidak diindahkan oleh ITB. Dengan semangat tak menyerah Mitha menunjukkan peraturan PP no 13 tahun 2020 tentang Akomodasi yang Layak untuk Peserta Didik Penyandang Disabilitas kepada pihak ITB dan akhirnya Mitha dibantu dalam penerjemah JBI dibiayai oleh ITB. Dengan kegigihan, ketekunan, perjuangan luar biasa, Mitha berhasil mendapatkan gelar Doktor dan menjadi wanita Tuli pertama di Indonesia yang menyandang gelar Doktor.

Awal perjalanan Mitha menjadi Komisioner Komisi Nasional Disabilitas (KND) dengan mendapatkan informasi di media sosial dan begitu Mitha sendiri memberitahu kepada kami, Lotus Ability.  Berkat motivasi dan dukungan teman- teman dan saudara serta keluarga, Mitha  berani mendaftarkan diri sehingga dapat menyelesaikan dokumen persyaratan sampai selesai.

Adapun 1291 orang pendaftar melalui proses seleksi yang sangat ketat terpilih 51 orang dan akan diseleksi kembali menjadi 21 orang. Melalui proses seleksi meliputi tes wawancara, tes psikotes, tes  kesehatan, tes wawancara dengan psikolog, akhirnya terpilih 14 orang.

Mitha merasa sangat senang dan bersyukur atas terpilihnya secara resmi menjadi anggota Komisioner Komisi  Nasional Disabilitas dan dilantik oleh Presiden Jokowi sebanyak 7 orang pada tanggal 1 Desember 2021 yang lalu.

Setelah terpilih, Mitha harus siap di dalam menjalankan tugas negara dalam pemantauan, evaluasi, advokasi berkaitan dengan masalah-masalah penyandang disabilitas, khususnya Tuli, misal mendapatkan akses SIM, kesehatan bisa memberikan harga terjangkau Alat Bantu Dengar (ABD) untuk Tuli kurang mampu di seluruh Indonesia, dalam hal pendidikan kurikulum SLB menjadi kurikulum umum, istilah sekolah SLB menjadi sekolah khusus (SKh), masalah pekerjaan untuk disabilitas dan masih banyak yang harus diperjuangkan Mitha demi mewujudkan Indonesia yang Inklusif.

Selain bertugas menjadi anggota Komite Nasional Disabilitas, Mitha merupakan pendiri/founder dari “Yayasan Sehjira” yang mempunyai arti “ Sehat Jiwa Raga” yang telah berdiri sejak tahun 2001.

Kiprahnya terhadap dunia disabilitas sudah banyak dilakukan dengan mengunjungi beberapa SLB di  24 provinsi Negara Indonesia, memberikan motivasi kepada anak-anak SLB agar berani melanjutkan di sekolah umum, memberikan pelatihan kemandirian remaja Tuli, pelatihan bahasa isyarat, pelatihan cara berinteraksi dan etika berkomunikasi Tuli, serta yang lainnya.

Walaupun Mitha memiliki kesibukan tugas untuk mengurus Sehjira dan tugasnya diserahkan   kepada anak buahnya. Akan tetapi, ia tetap membantu untuk memberi motivasi dalam kegiatan Sehjira. Selama hidupnya, Mitha tidak pernah mengeluh dengan keterbatasan yang dimiliki.

Mitha berharap agar sekolah SLB tidak boleh dibedakan dengan sekolah umum, penggunaan ABD (Alat Bantu Dengar) harus merata di semua daerah termasuk daerah terpencil sekalipun, akses untuk ruang publik bagi disabilitas harus disediakan, akses pekerjaan untuk disabilitas kuota bisa lebih 2%, dan sebagainya. Saya tidak bisa sendiri untuk melakukannya, kita harus bersama- sama untuk mewujudkannya “ ucap Mitha kepada Lotus Ability.

 

Sumber : Hasil Wawancara Team Lotus Ability & Bu Mitha Via Zoom Meeting

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *