Kebutuhan Jurnalis Tuli Bagi Media Disabilitas

Sudah lebih dari tiga tahun media disabilitas yang bernama KamiBijak (Kami Berbahasa Isyarat Jakarta) eksis secara daring atau online. Media ini didirikan oleh seorang disabilitas Tuli bernama Paulus Ganesha Aryo Prakoso. Dia pernah mengenyam pendidikan di SLB/B Pangudi Luhur, Jakarta dan berkuliah di Universitas Budi Luhur, Jakarta. Hebatnya, dia menempuh pendidikan Sarjana Sistem informasi hanya selama 3 tahun, tak heran jika memiliki kemampuan yang begitu luar biasa dalam menciptakan website khusus media.
Paulus terlahir dalam kondisi Tuli dan tak bisa mendengar suara apapun. Sejak kecil, dia menonton TV dengan tanpa teks dan layar penerjemah yang terlalu kecil. Namun, tak ada perubahan besar baginya dalam menikmati akses informasi yang terdapat di Indonesia. Karena itu, dia beralih dengan menonton TV dari luar negeri yang dipenuhi dengan teks, sehingga mudah dimengerti olehnya dalam menyerap informasi yang diperoleh dari dunia luar. Hal itu tak menjadikannya merasa ketertinggalan dalam informasi seperti yang dilakukan oleh orang dengar pada umumnya bisa memperoleh informasi secara cepat.

Demi memajukan disabilitas Tuli dalam akses informasi, Paulus bersama temannya, Laura Lesmana Wijaya dan Surya Sahetapy sedang memperjuangkan kesetaraan hak bagi disabilitas Tuli. Mereka saling bertemu dalam membahas bersama tentang masalah akses informasi di Indonesia. Laura Lesmana Wijaya, merupakan ketua Pusbisindo (Pusat Bahasa Isyarat Indonesia) dan ahli linguistik bahasa Isyarat sedangkan Surya Sahetapy seorang publik figur yang aktif dalam menyuarakan hak kepada masyarakat umum.
Dimulai dengan sebersit niat dari Paulus untuk membantu disabilitas Tuli, dia mendirikan media KamiBijak dengan slogan “Genggam Dunia Tanpa Suara”. Media ini bersifat unik dan begitu berbeda dengan media pada umumnya, kenapa? karena menghadirkan jurnalis Tuli dalam memperagakan bahasa isyarat dalam bentuk visual video dan penerjemah Juru Bahasa Isyarat (JBI) dengar yang tugasnya dalam menjembatani komunikasi antara orang dengar dan orang tuli. Media KamiBijak tidak hanya diperuntukkan bagi disabilitas tuli saja tetapi bisa juga dinikmati oleh disabilitas netra dengan bantuan akses suara.

Sebelum pandemi COVID-19, media KamiBijak telah melakukan banyak wawancara dengan tokoh-tokoh penting seperti Anies Baswedan, Najwa Shihab, dan lainnya. Kegiatan wawancara tersebut dilakukan dengan bertatap muka dan dikerjakan di lapangan. Media KamiBijak mempekerjakan disabilitas Tuli di antaranya jurnalis, desain grafis, editor video, pengisi konten. Selain itu, juga mempekerjakan orang dengar untuk bidang marketing komunikasi dan penerjemah Juru Bahasa Isyarat (JBI).

Tantangan media KamiBijak tidaklah mudah karena jika melakukan wawancara dengan narasumber orang dengar, dibutuhkan waktu yang lebih lama dalam menerjemahkan informasi dengan bantuan JBI dan kemudian disampaikan kepada jurnalis sehingga dapat memperoleh informasi yang benar dan akurat. Kenyataannya, jurnalis KamiBijak hanya satu orang dan masih minimnya kebutuhan Sumber Daya Manusia bidang jurnalistik khususnya disabilitas Tuli. Paling banyak mereka mengalami kesulitan dalam bahasa dan karena itulah sangat sedikit orang Tuli untuk terjun sebagai jurnalis. Dengan demikian, untuk memenuhi kebutuhan akses informasi bagi disabilitas Tuli secara cepat dan tepat, dibutuhkan adanya jurnalis Tuli yang memiliki kemampuan sebagai berikut: memperagakan bahasa isyarat dalam bentuk video, melakukan wawancara dengan narasumber, dan juga menulis konten atau artikel secara kreatif.

Media KamiBijak terus mempertahankan dalam menyajikan informasi bagi disabilitas dengan bentuk program yaitu :
- Kabar Bijak: berita yang menyajikan informasi terkini, fakta atau sesuatu yang sedang terjadi; berita tentang sosok disabilitas yang menginspirasi
- Bijak Fun: menyajikan informasi hiburan mengenai kisah inspiratif, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.
- Jalan-Jalan Kuliner: ulasan tentang makanan atau minuman
- Ruang KamiBijak: cerita drama berupa dialog yang menceritakan tentang problematika kehidupan
- Bijak Flash: video yang berdurasi singkat hingga 1 menit
- Bincang Isyarat: sebuah program talkshow di mana seseorang ataupu grup bersama disabilitas untuk mendiskusikan topik yang sedang hangat untuk dibicarakan
Tim KamiBijak tetap berusaha dalam melakukan pembaharuan dengan bentuk informasi yang variatif supaya tidak monoton bagi audiens atau pemirsa. Program yang paling banyak disukai audiens yaitu Ruang KamiBijak (29%), Jalan-Jalan kuliner (27%), dan Bijak Fun (20%).

Saat ini tim Kamibijak melakukan pekerjaan di rumah masing-masing karena merebaknya virus COVID-19 yang mengharuskan mereka untuk menjaga jarak dan menggunakan masker sesuai aturan protokol kesehatan yang ketat. Oleh karena itu, kegiatan wawancara dilakukan secara daring/online dan melakukan pekerjaan masing-masing di rumah. Namun, ada beberapa kendala seperti gangguan sinyal internet yang kadang-kadang lemah menyebabkan terganggunya tim KamiBijak untuk mempresentasikan informasi di media online Youtube, Instagram, Facebook, Website. Dalam kondisi seperti ini, tim KamiBijak tetap berusaha semaksimal mungkin dan saling bekerjasama dengan tujuan yang sama tentunya untuk menyajikan informasi bermanfaat bagi disabilitas.

Sangat diharapkan untuk dapat menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) disabilitas bidang jurnalistik, dapat dimulai dari sekarang dengan mendorong disabilitas Tuli yaitu menumbuhkan semangat membaca untuk memperkaya pengetahuan bahasa dan menulis dalam mengekspresikan diri. Selain itu, juga harus mampu menyerap informasi yang ada.
Paulus mempunyai harapan ke depan terhadap media KamiBijak yaitu dapat dikenal banyak orang dan menjadi media inklusif di Indonesia; dapat menyajikan informasi atau berita terkini di TV, makin berkembang minat bidang jurnalistik tidak hanya bagi disabilitas Tuli tetapi juga untuk disabilitas netra, daksa sehingga terwujudnya kesetaraan dalam akses informasi di media berbahasa isyarat.
Sumber : Hasil wawancara Team Lotus Ability & Paulus
Dokumentasi : Youtube KamiBijak