Inspiration

Peran penting BISINDO bagi orang Dengar dan orang Tuli

Laura Lesmana Wijaya biasa dipanggil Laura, dia lahir tuli dari orang tua Tuli. Laura merupakan lulusan Magister Linguistik Bahasa Isyarat dari The Chinese University of Hongkong tahun 2018. Laura sedang aktif berjuang untuk memberdayakan dan mendorong edukasi bahasa Isyarat kepada teman-teman Tuli untuk mendapatkan hak yang setara sampai di dunia nasional maupun internasional. Pusbisindo (Pusat Bahasa Isyarat Indonesia) sejak tahun 2009 sampai sekarang yang diketuai oleh Laura dalam membuka kelas kemahiran bahasa Isyarat di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya – Universitas Indonesia bagi orang Dengar. Minat mereka sangat besar dalam mempelajari bahasa Isyarat demi membantu orang Tuli untuk memperoleh hak informasi.

BISINDO sebagai bahasa isyarat alamiah yang berarti dibuat oleh orang Tuli sendiri, bukan termasuk bahasa standarisasi dan tidak ada namanya baku seperti digunakan dalam tata bahasa Indonesia yaitu Subjek Verba Objek.

Bahasa Indonesia merupakan tata bahasa tepat bukan baku. Tata bahasa itu terdiri dari berbagai fonologi, morfologi dan sintaksis. Jadi, penggunaan BISINDO sangat berbeda dengan penyusunan kalimat dalam tata bahasa Indonesia.

Di beberapa sekolah SLB diajarkan oral bagi orang Tuli dan perlu diketahui bahwa oral termasuk bahasa Indonesia karena memiliki 4 kemampuan, yaitu : menulis, membaca, berbicara dan mendengar. Berdasarkan studinya, Tuli cukup dilatih menulis dan membaca.

BISINDO paling banyak digunakan oleh kalangan umum karena mudah dipahami dan dapat menggunakan fitur manual dan non-manual.

Sumber : Canva

BISINDO sebagai mode komunikasi antara orang Dengar dan orang Tuli serta untuk sesama Tuli. Sehingga sangat berguna dalam memahami maksud dari lawan bicara.

Sumber : Canva

Contohnya: Dalam memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama diri. Bila lawan bicara orang dengar menyebutkan namanya, pasti orang Tuli merasa bingung dengan nama yang disebutkan. Dengan menggunakan BISINDO, orang Tuli bisa memahami maksud dari lawan bicara. Selain bahasa isyarat perkenalan nama diri, ada bahasa isyarat lainnya seperti kata sapaan. Contoh : selamat pagi, selamat siang, selamat sore dan selamat malam. Masih banyak bahasa isyarat lainnya yang bisa dipelajari dalam membantu memahami maksud lawan bicara.

Sumber : Canva

BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) berbeda-beda di setiap daerah dan memiliki karakteristik tata bahasa isyarat tersendiri. Sebagai contoh: bahasa Isyarat Jakarta, Bali, Yogyakarta, Sulawesi, dan sebagainya. Tak ada salahnya untuk saling memahami dengan budaya Tuli dan bahasa isyarat di daerah masing-masing.

Sumber : Canva

BISINDO paling efektif dalam mempermudah komunikasi di segala aspek kehidupan misalnya bidang pendidikan, pekerjaan, peradilan, kesehatan, dan sebagainya.

Itulah merupakan hak bagi orang Tuli dalam kemudahan akses bagi mereka.

Sumber : Canva

Tidak hanya bagi orang Tuli saja, BISINDO juga memiliki kelebihan bagi orang tua dengar dan anak-anak Tuli supaya dapat menjalin hubungan yang harmonis serta dapat memberikan kemudahan dalam berkomunikasi.

Sumber : Canva

Beberapa orang dari sesama Tuli bisa berkomunikasi secara oral dan itulah merupakan pilihan hidup yang tidak bisa dipaksakan kehendaknya bagi tiap orang dalam berkomunikasi dengan masyarakat. Tak ada salahnya bagi mereka untuk belajar BISINDO demi membantu sesama disabilitas Tuli.

Supaya BISINDO lebih dikenal masyarakat, perlu adanya edukasi bahasa isyarat bagi orang Dengar dan sesama Tuli. Sehingga diusahakan sesering mungkin mempraktekkan bahasa isyarat dalam berkomunikasi. Masih banyak cara untuk mengedukasi orang Dengar dan orang Tuli melalui pelatihan, pemaparan, pemberdayaan Tuli  lewat BISINDO untuk mempertahankan hak berisyarat, berpendapat dan bersosialisasi.

Laura Lesmana Wijaya sangat berharap bahwa semua orang dapat berisyarat tanpa adanya diskriminasi dan menyetarakan hak bagi orang Tuli. Juga mereka dapat menerima pendidikan yang setara dan lebih tinggi. Selain itu, Laura juga menyarankan bahwa orang tua Dengar yang memiliki anak Tuli tidak cuma mengandalkan oral tetapi ikut terlibat dalam berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat agar dapat menjalin hubungan erat antara orang tua dan anak Tuli. Tidak ada salahnya untuk menguasai dua bahasa (bilingual) yaitu : Bahasa Indonesia dan Bahasa Isyarat.

 

Sumber : Hasil Wawancara Team Lotus Ability & Laura

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *