Deaf Space Arsitektur Ramah Tuli
Sejarah :

- Deaf Space adalah ruang yang didesain sesuai dengan kebutuhan orang tuli.
- Sedangkan, Hansel Bauman (2005) mendefinsikannya sebagai ruang di mana orang tuli memodifikasikan lingkungan guna memenuhi kebutuhan spesifik (Harahap dan Basref, 2020).
- Di tahun 2005, Hansel Bauman (arsitek HBHM) bekerja dengan Departemen American Sign Language (ASL) Universitas Gallaudet untuk mendirikan proyek Deaf Space.
- Proyek ini merupakan wujud tekad Universitas Gallaudet untuk menjadikan diri sebagai model rujukan global arsitektur yang ramah bagi penyandang tuli.
- Ini juga memantapkan peran global sebagai pelopor pendidikan tuli, terutama pengembangan bahasa, budaya, seni dan pembangunan internasional sejak tahun 2002.
- Lima tahun kemudian, panduan Deaf Space dirilis dengan judul “The Gallaudet Deaf Diverse Design Guide”.
- Di Indonesia, Deaf Space pertama kali diperkenalkan oleh Meutia Rin Diani (arsitek tuli) melalui buku “Mata yang mendengar”.
- Buku itu adalah hasil penulisan ulang skripsi Meutia Rin Diani yang berjudul “Akses Visual bagi Penyandang Tunarungu”.
- Rachmita M Harahap secara konsisten meneliti dan menulis esai serta mengadvokasi Deaf Space di Indonesia.
- Beliau juga mengajar di Universitas Mercu Buana Program Studi Desain Interior dan menjadi perempuan tuli pertama di Indonesia yang menyandang gelar Doktor di Institut Teknologi Bandung (ITB) di tahun 2021.

Prinsip Deaf Space
1. Ruang dan Jarak
- Pada umumnya, orang tuli memerlukan ruang yang lebih besar daripada orang dengar.
- Contoh: trotoar harus lebar, agar orang tuli nyaman berkomunikais sambil bertatap muka dan berbahasa isyarat.
- Ini disebabkan oleh komunikasi bahasa isyarat yang membutuhkan ruang lebar agar tangan bisa leluasa bergerak.
- Orang tuli dapat merasa lebih nyaman dalam berbahasa isyarat tanpa mengkhawatirkan lingkungan sekitarnya seperti mobil/ motor yang lewat.
- Dalam penelitiannya, Hansel Bauman juga menemukan salah satu budaya Tuli yang unik, yaitu: dalam percakapan lebih dari dua orang, salah satunya akan berperan sebagai pengawas atau navigator untuk melindungi kedua rekannya dari bahaya di sekeliling mereka.

2. Jangkauan Visual
- Ketidakmampuan mendengar membuat orang tuli bergantung pada matanya.
- Bagi orang tuli, sangat penting untuk dapat melihat situasi di sekitarnya sehingga mereka merasa lebih aman.
- Oleh karena itu, desain interior ruang mesti memudahkan orang tuli untuk melihat kondisi di sekitarnya dengan jelas.
- Contoh: Pemasangan dinding kaca yang transparan membantu orang tuli mengetahui kondisi di dalamnya.
- Pemasangan signage atau simbol dan rambu-rambu yang dapat dilihat dengan jelas akan membantunya.

3. Mobilitas dan Kedekatan
- Prinsip desain berfokus pada layout furnitur di dalam ruang.
- Contoh: layout kursi ditata melingkar supaya orang tuli bisa membaca bibir atau melihat isyarat dari rekan-rekannya.
- Menariknya, Hansel Bauman (2005) sempat mengaitkannya dengan fenomena takete- maluma.
- Takete dikaitkan dengan pola yang sangat tajam, kaku dan bersudut, sedangkan, maluma erat dengan pola yang melingkar (Diani, 2012).
- Penerapan arsitektur yang maluma akan mempermudahkan orang tuli untuk menikmati ruang dan berkomunikasi. Takete justru mempersulitkan (Diani, 2012)
- Ramp atau jalur yang dibuat khusus untuk penyandang disabilitas daksa dan bisa juga untuk penyandang tuli. Bila sedang berbicara dengan orang lain, penyandang tuli takkan mudah tersandung karena ada perbedaan ketinggian antara lantai dan jalan.

4. Pencahayaan dan Warna
- Pencahayaan, baik alami maupun buatan, di dalam ruangan harus terang agar orang tuli dapat melihat jelas.
- Pencahayaan yang redup atau gelap harus dihindari (Harahap dan Basref, 2020)
- Warna dinding sebaiknya polos dan kontras dengan warna kulit manusia secara umum supaya orang tuli dapat fokus dalam membaca bibir atau isyarat orang lain (Harahap dan Basref, 2020).
- Penggunaan material yang bertekstur, bercorak, atau bermotif juga tidak dianjurkan.

sumber : canva
5. Akustik
- Dalam komunitas tuli, ada yang menggunakan alat bantu dengar (ABD) dan ada juga yang tidak menggenakannya.
- Bagi pengguna ABD, ruang seharusnya tidak bising supaya mereka bisa mendengar lebih baik (Harahap dan Basref, 2020)
- Masalah kebisingan ini bisa diatasi dengan memasang bahan penyedap suara di dinding.
- Posisi bangunan sebaiknya jauh dari jalan atau sumber bising lainnya.

Sumber :
Diani, Meutia (2012). Mata yang Mendengar, Jakarta: Lamalera dan Samara Forum.
Harahap, Rachmita M dan Basref, Lelo (2020). Pengalaman Mahasiswa Tuli di Ruang Komunal Universitas Mercu Buana. INKLUSI: Journal of Disability Studies. Vol.7, No. 2, Juli-Desember 2020, pp:167-206.