Karier Cemerlang Meutia Rin Diani, Arsitek Tuli

dokumentasi pribadi
Meutia (34 tahun), seorang wanita hebat dan pintar, lulusan Sarjana Arsitektur dari Universitas Indonesia (UI). Prestasi belajarnya sangat memuaskan dengan nilai IP (Indeks Prestasi) di atas nilai rata-rata (Cum Laude) 3,79. Padahal, pelajarannya agak sulit dan menjadi momok menakutkan bagi tiap orang karena harus bisa menguasai ilmu Matematika. Berbeda halnya bagi Meutia, dia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam bidang Matematika dan Seni. Sehingga oleh ibunya disarankan untuk mengambil jurusan Arsitektur. Tak disangka, Meutia lolos seleksi melalui ujian SMBPTN (Seleksi Masuk Bersama Perguruan Tinggi Negeri) di Universitas Indonesia (UI).

dokumentasi pribadi
Pada awal kuliah, Meutia sempat kesulitan mengikuti pelajaran karena nilainya sempat turun di semester 2 sampai 3. Ia harus berjuang keras untuk beradaptasi di lingkungan kampus dalam proses berkomunikasi dengan dosen dan mahasiswa, juga karena sistem pendidikannya dari SD hingga SMA yang jauh berbeda dengan sistem pembelajaran kuliah di Universitas Indonesia (UI).Dalam pembelajarannya, diterapkan sistem teori (20%), praktek (70%) tentang desain atau menggambar, lainnya perilaku seperti disiplin dan tepat waktu (10%). Dengan tekad kemauan yang kuat, akhirnya Meutia berhasil menyelesaikan kuliah dalam waktu 4 tahun. Wah..perjuangannya luar biasa dan tak sia-sia dalam menggapai masa depannya demi mendapatkan pekerjaan yang layak.

dokumentasi pribadi
Setelah lulus kuliah, Meutia sempat bekerja di perusahaan real estate kecil, PT. Ciptadra Bangun Indonesia yang berlokasi di Depok selama 1 tahun.
Saat ini, dia bekerja di biro konsultan arsitektur namanya PT. Arkitekton Limatama, di Jakarta Selatan dan telah berkecimpung di bidangnya selama 11 tahun.
Dalam menggeluti pekerjaan sebagai seorang arsitek, Meutia harus menghadapi tantangan kerja yang begitu sulit terutama dalam berkomunikasi dengan klien. Dia sendiri merupakan disabilitas Tuli, mengalami keterbatasan dalam pendengaran dan berkomunikasi. Walaupun Tuli, dia terbiasa berkomunikasi secara oral dengan orang normal. Bila ada sesuatu yang tidak dimengerti olehnya, dia biasanya meminta mereka untuk menulis secara tertulis di kertas atau handphone.

dokumentasi pribadi
Cara berkomunikasi dengan klien, dia dibantu rekannya untuk menerjemahkan dalam mendiskusikan hasil rancangannya. Kelebihannya, Meutia dapat saling kooperatif dalam bekerja dengan tim arsitektur. Tak ada halangan baginya untuk terus berkarya dalam menciptakan desain arsitektur dan hasilnya dapat dihargai oleh banyak orang. Meutia paling merasa bangga ketika berhasil membuat rancangan arsitektur bersama rekan-rekan timnya yaitu Resinda Park Mall di Karawang, Jawa Barat. Itu adalah mall terbesar di Karawang. Desainnya terinspirasi dari bulir padi yang menjadi ciri khas kota tersebut dengan “Lumbung Padi”.

dokumentasi pribadi
Meutia beserta rekan-rekan tim berjumlah sekitar 10 orang. Kerja kerasnya bersama tim telah terbayar karena harus berjuang selama 4 tahun mulai tahun 2013 – tahun 2017 dalam menyelesaikan rancangannya hingga detail dan sempurna. Mulai dari desain gambar gedung, sketsa bangunan, perhitungan kontur tanah bangunan, negosiasi dengan klien, koordinasi dengan tim di lapangan, dan konstruksi.

dokumentasi pribadi
Selain sebagai seorang arsitek, Meutia bisa membuktikan kemampuannya dalam berkarya melalui menulis buku berjudul “Mata yang Mendengar”. Bukunya telah terbit pada bulan Mei 2012, dituliskan tentang kaidah-kaidah desain Deaf Space, ruang yang mengakomodasikan kebutuhan orang Tuli. Ini merupakan hasil penulisan ulang skripsinya yang berjudul “Akses Visual bagi Penyandang Tunarungu”.
Demi menggapai ilmu yang lebih tinggi dan memperluas wawasan dalam pekerjaannya, Meutia melanjutkan kuliah S2 Fakultas Ilmu Lingkungan di Universitas Indonesia (UI) melalui ujian SIMAK UI.
Dia sangat berharap bahwa masyarakat lebih banyak memberikan dan memperluaskan akses pekerjaan bagi disabilitas. Tidak hanya memberikan pekerjaan, mereka bersedia memberikan bantuan akses supaya semua disabilitas bisa bekerja dengan baik. Lalu, bisa membantu meningkatkan kualitas pekerjaan yang lebih baik sehingga karir bagi disabilitas bisa lebih maju dan berkembang. Contohnya bagi disabilitas Tuli diberikan pendampingan dengan rekan kerjanya saat melakukan diskusi dengan klien.
Sumber : Hasil Wawancara Junita & Meutia
Foto dokumentasi : Meutia